Warga Perumahan Korpri Sesalkan Pemberitaan Yang Subyektif Dan Sepihak, Kini Akses Jalan Dibuka Kembali

mediasi oleh Camat Neglasari Tubagus Soni Saniawan, Lurah Neglasari Firman Maulana Yusup, dan Lurah Kedaung Wetan Khalik, pada 4 Mei 2021 lalu(DOK:Heru/Advokasi.co)

Tangerang - Polemik mengenai ditutupnya (sementara) akses jalan alternatif yang menghubungkan wilayah Kelurahan Neglasari dan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, tepatnya akses di antara Komplek LDII yang berada di RW 07 Kelurahan Neglasari dan Perumahan Korpri yang terletak di RT 06/04 Kelurahan Kedaung Wetan, tanggal 18 April 2020 seiring diberlakukannya PSBB di Kota Tangerang. 

Seiring dengan melandainya kasus terjangkit Covid-19 di Indonesia, khususnya di Kota Tangerang, semua akses jalan kampung atau perumahan yang semula ditutup portal, telah dibuka kembali. 

Namun portal yang menutup akses jalan alternatif antara Komplek LDII dan Perumahan Korpri memang belum dibuka lagi. Disebut jalan alternatif karena jalan utama Komplek LDII adalah melewati Gang Perkutut, Kelurahan Neglasari. 

Salah satu warga Komplek LDII yang sempat ditemui awak media, mengutarakan keinginan warga Komplek LDII, bahwa akses jalan tersebut agar dibuka dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. 

"Akses jalan tersebut penting bagi warga RW 07 Kelurahan Neglasari yang hendak bepergian ke Kelurahan Kedaung Wetan. 

Banyak anak-anak warga kami yang bersekolah di SDN Kedaung Wetan I, di SMPN 22 atau di SMKN 6, yang setiap berangkat aktifitas sekolah melalui jalan tersebut. Juga pedagang keliling maupun Ojol" ungkap S salah seorang warga yang minta identitasnya, Kamis (10/6/2021).

"Kalau akses jalan ditutup, otomatis tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Sehingga harus memutar jalan yang jaraknya lumayan jauh," lanjut S. 

Sementara menurut warga Perumahan Korpri yang diwawancarai oleh awak media menjelaskan, bahwa akses jalan tersebut sebenarnya bukan jalan umum, melainkan jalan Komplek Perumahaan yang dibangun secara swadaya oleh warga perumahan.

"Perumahan Korpri dibangun sejak 1996. Site plan ada dan jelas mengenai batas-batasnya, Dulu sekeliling Perumahan Korpri cuma dibatasi dengan pohon dan saluran air. Sedangkan Komplek LDII dibangun tahun 2005, dan jalan keluar masuk komplek adalah melewati Gang Perkutut di Kelurahan Neglasari," terang Ad warga perumahan Korpri.

"Mengenai akses jalan yang menjadi polemik karena ditutup ini, sebelumnya adalah jalan Perumahan Korpri yang atas permintaan dari warga Komplek LDII dibuka untuk akses kendaraan roda empat yang mengangkut material, karena pada waktu itu banyak pembangunan di area Komplek LDII bagian belakang" lanjut Ad. 

"Dulu, kira-kira 10 tahun yang lalu, pernah dimusyawarahkan di masjid, yang dihadiri  ketua RT Komplek Perumahan Korpri dan sesepuh  Komplek LDII, bahwa untuk mengantisipasi sering terjadinya kehilangan kendaraan bermotor di Perumahan Korpri, maka warga Komplek LDII diminta untuk membantu menjaga keamanan karena akses jalan yang terbuka rawan ancaman keamanan, baik dengan mengadakan security komplek atau secara ronda, Tapi mereka (warga Komplek LDII) tidak menyanggupi," tambah Ad. 

Ad dan warga Perumahan Korpri bahkan menyesalkan atas banyaknya berita atau konten yang diunggah di Youtube, yang isinya pernyataan sepihak dan sangat subyektif, Padahal salah satu narasumbernya adalah warga Komplek LDII yang ikut hadir dalam musyawarah mediasi antara kedua belah pihak, yang dimediasi oleh Camat Neglasari Tubagus Soni Saniawan, Lurah Neglasari Firman Maulana Yusup, dan Lurah Kedaung Wetan Khalik, pada 4 Mei 2021 lalu.

Camat Neglasari Tb. Soni Saniawan, melalui pesan WA menjelaskan bahwa rapat atau musyawarah antara tokoh dan perwakilan  masyarakat kedua wilayah telah menghasilkan keputusan yang tertulis dan ditandatangani dalam notulen rapat, di antaranya membuka kembali pintu yang menutup akses jalan, dengan sistem buka tutup. Pukul 06.00 WIB dibuka, dan pukul 21. 00 WIB ditutup dimana ini kembali seperti peraturan sebelumnya. 

Memang butuh kearifan, kedewasaan dan sikap legowo dalam menyikapi setiap permasalahan, sehingga melahirkan keputusan yang adil dan obyektif bagi semua pihak. (Heru)