Seorang Terdakwa Kasus Kambing Etawa Dijemput Paksa Kejari Bangkalan

Syamsul Arifin(Rompi Merah) saat dikawal menuju mobil tahanan pidsu Kejari Bangkalan(DOK:Wahyu/Advokasi.co)

BANGKALAN - Syamsul Arifin mantan Kepala BPKAD Bangkalan yang juga merupakan salah seorang terdakwa kasus korupsi kambing etawa berhasil dijemput paksa oleh Kejaksaan Negeri Bangkalan pasca kasasi dari JPU diterima oleh Mahkamah Agung pada bulan Januari lalu, Senin (10/5/2021).

Syamsul berhasil dijemput paksa oleh tim Kejari Bangkalan sekitar pukul 09.30 waktu setempat, dimana ia datang mengendarai sepeda motor dan dikawal ketat oleh tim Kejari Bangkalan.

Kajari Bangkalan Chandra Saptadji melalui Kasi Intel Putu Arya Wibisana dalam pers rilisnya mengatakan bahwa pihaknya sudah 2 kali melayangkan surat kepada Syamsul Arifin, akan tetapi tidak sekalipun surat tersebut digubris.

"Pada hari ini kita telah melaksanakan putusan Mahkamah Agung atas perkara kambing etawa, kita tadi telah menjemput paksa saudara Ir. Syamsul Arifin setelah yang bersangkutan mangkir dari 2 surat panggilan yang telah kita layangkan," ucapnya.

Putu juga menjelaskan bahwa yang bersangkutan dijemput sekitar pukul 09.30 di rumahnya di jalan Ketengan nomor 39 RT 02, RW 02 kelurahan Tunjung kecamatan Burneh, Bangkalan, selain itu ia juga menjelaskan sudah menjemput juga Mulyanto Dahlan, terdakwa kedua dari kasus korupsi kambing etawa ini di rumahnya di Perumnas Kamal.

"Untuk Mulyanto Dahlan tadi juga sudah dijemput di rumahnya di Perumnas Kamal akan tetapi yang bersangkutan tidak ada di tempat sehingga akan dilayangkan surat panggilan ketiga," jelasnya.

Sekedar diketahui, Mahkamah Agung mengabulkan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bangkalan dengan mengeluarkan amar putusan nomor 133K/PID.SUS/2021/MA yang keluar pada tanggal 27 Januari 2021 yang menyebutkan bahwa masing-masing terdakwa divonis 6 tahun penjara serta denda 200 juta rupiah.

Selain itu para terdakwa juga harus membayar uang pengganti atas kerugian negara dengan rincian Syamsul Arifin senilai Rp. 3,7 Milyar dan Mulyanto Dahlan senilai Rp. 4,6 Milyar. (Wahyu)