Rekonstruksi Kasus Klampis, Bachtiar : Banyak Kejanggalan Dan Pertanyaan Besar

LOKASI : Sayangnya media Dilarang Ambil gambar saat proses rekonstruksi. (foto : wahyu/advokasi.co)

BANGKALAN - Rekonstruksi kasus pelecehan seksual yang dialami oleh NS seorang kepala TK digelar hari ini di lokasi kejadian di salah satu SMP swasta di Desa Bragang, Kecamatan Klampis, Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2020).

Bachtiar Pradinata, Kuasa Hukum MS. (foto : wahyu/advokasi.co)Bachtiar Pradinata, Kuasa Hukum MS. (foto : wahyu/advokasi.co)

Kasus yang menyita perhatian publik ini diduga dilakukan oleh MS dimana status tersangka sudah ditetapkan kepadanya beberapa saat yang lalu oleh Polres Bangkalan dan hari ini dilakukan 2 rekonstruksi yaitu versi pelapor dan terlapor.

Kuasa hukum tersangka Bachtiar Pradinata, SH mengatakan banyak kejanggalan saat rekronstruksi versi pelapor dilakukan.

"Banyak kejanggalan ya tadi saat rekronstruksi versi pelapor dilakukan yang nantinya itu akan menjadi pertanyaan besar buat kami," ujarnya.

Ditanya terkait pertanyaan besar apa dan fakta hukum yang ada berdasarkan hasil rekonstruksi  Bachtiar akan menjawabnya nanti di persidangan.

"Soal pertanyaan besar apa itu dan fakta hukum apa, nanti akan kita sampaikan di pengadilan yang pasti kami ucapkan terima kasih banyak kepada penyidik yang telah melakukan rekonstruksi hari ini sehingga kami mendapatkan hal baru yang nantinya akan kami ungkap di persidangan," jelasnya.

Berdasarkan keterangan MS yang didapat oleh Advokasi.co, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus ini dan wajib untuk membela diri.

"Sejak pelaporan ke Polsek Klampis yang dilakukan oleh inisial NS yang menuduh saya telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya, baru kali ini saya berbicara di depan publik tentang kebenaran yang selama ini diputar balikkan oleh NS di media. Saya dan NS memang saling mengenal, beberapa kali NS datang ke lembaga untuk menemui saya dengan berbagai alasan," ungkapnya.

Ia juga menuturkan kronologi kasus yang menimpanya, menurutnya ada 2 saksi yang tahu persis apa yang terjadi saat itu.

"Ada dua orang yang juga melihat kejadian ini dari kaca jendela, 1 orang pekerja tukang dan juga tukang kebun yang sedang bekerja. Di hari kejadian, dia masuk ke ruangan saya tanpa izin kemudian duduk di sofa, bahkan saya sempat ngomong ke NS.

Kamu ini maunya apa, saya tersinggung, saya terlecehkan dengan sikapmu ini," terangnya.

Di lain pihak Koordinator Pendamping Psikologi Unit Perempuan dan Anak (PPPA) Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) KBP3A Bangkalan Dr. Mutmainnah selaku pendamping korban berharap pihak kepolisian bisa menemukan kebenaran dari 2 versi rekonstruksi yang dilakukan hari ini.

"2 rekronstruksi hari ini saya lihat berbeda antara versi pelapor dan terlapor sehingga saya sebagai pendamping juga kebingungan mana ini yang jujur dan siapa yang berbohong, saya juga gak boleh ngomong ini versi korban yang benar karena kita juga menghargai praduga tak bersalah dan saya harap pihak kepolisian bisa melakukan terobosan dalam menemukan kebenaran," tuturnya.

Sementara itu Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Agus Soebarnapraja mengatakan bahwa rekonstruksi dilakukan untuk melengkapi berkas yang masuk ke kejaksaan.

"Yang pasti rekonstruksi tadi dilakukan untuk melengkapi berkas ke kejaksaan dan tadi dilakukan dalam 2 versi yaitu versi korban dan versi pelaku dimana tadi memang berbeda versinya," jelasnya. (Wahyu)

Berita Terkait