PN Sampang Kunjungi Lokasi Objek Tanah Lahan Yang Sengketa

SAMPANG - Objek lahan tanah sengketa terjadi di jalan Makbol di Kelurahan Polagen, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang dengan tanah seluas 15.890 m² yang bermasalah antara H. Chairul Saleh Cs sebagai pihak tergugat dengan H. Jatim selaku pihak penggugat sampai saat ini belum ada titik penyelesaian.

Kasus sengketa tanah antara kedua belah pihak itu dimulai sejak awal tahun 2019 dan sudah melalui beberapa kali proses sidang Pengadilan Negeri Sampang. Sehingga dari Kepala Pengadilan Negri (PN) Sampang juga hadir Lurah Polagan serta dari Koramil kota 0828 mengunjungi lokasi objek lahan tanah yang bersengketa Di jalan Makbol Kelurahan polagan Sampang ,Kecamatan /Kabupaten Sampang, Madura pagi tadi sekitar jam 10 sampai jam 11 selesai, Jumat (22/10/2021).

H. Choirul Saleh Cs melalui kuasa hukumnya H. Bahri, S,ag ,SH mengatakan bahwa yang dianggap obyek sengketa oleh para penggugat atau Pembantah, Pembantahnya H Choirul Salah Cs jadi hakim secara langsung juga hadir ke lokasi tanah, untuk memastikan lokasi tanah tersebut apakah benar objek itu masuk dalam sengketa atau tidak.

Sehingga dari pihak pembantah mengatakan bahwa benar tanah itu adalah objek sengketa yang akan dimohon oleh kami sebagai terbantah, yaitu buku tanahnya ada di blok A5 ukuran 10x20 seluas 200m² persegi.

Jadi batas batasnya sudah di tunjukkan satu lokasi dari pihak kami dari turut terbantah satu dan  dua mengatakan bahwa tanah yang di sini tidak masuk dalam objek sengketa yang akan di mohon untuk eksekusi.

Sehingga tanah ini  adalah tanah yang telah di jual oleh H.Jatim, namun keterkaitan dengan perjanjian keuntungan, perjanjian kerjasama dari kedua pihak keuntungan urusan tanah dimana pihak satu dan dua menjual tanahnya dan keuntungannya itu yang dibagi dan bukan untuk mengeksekusi.

Kemudian tanah tersebut yang telah dijual oleh pihak satu dan dua sepakat untuk memberikan keuntungan sesuai dengan perjanjian karena kemaren dari pihak turut terbantah satu mengajukan gugatan untuk gugatan perjanjian itu karena dia tidak bisa membayar, ahirnya ditolak oleh," kata H. Bahri.

Jadi keputusan pengadilan yang Pertama mengembalikan kepada putusan awal sesuai dengan perjanjian bahwa turut terbantah H. Jatim harus melaksanakan perjanjian perdamaian untuk membayar keuntungan sesuai dengan perjanjian di awal 

Tanah ini dijual laku 3,5M terus keuntungan yang dibagi turut terbantah satu dan dua itu mendapatkan pembagian keuntungan 1,2 M sisanya itu sekitar 2,6 M adalah milik H. Jatim sebagai pemilik tanah.

Itu keputusan diajukan banding ke pengadilan tinggi Surabaya dan hal itu ditolak bandingnya tetep menguatkan keputusan pengadilan Negeri Sampang.

Pembantah dari pihak Mukid, pembeli dari pihak pembantah karena kami mengajukan eksekusi dari tanah itu sehingga kami belum menunjuk lokasi obyek tapi pembantah sudah bilang tanahnya yang akan di eksekusi, padahal kami hanya mengajukan permohonan untuk eksekusi.

Namun tanah yang diajukan eksekusi itu kami masih belum ada karena masih mengajukan permohonan eksekusi belum ditentukan karena masih mengajukan permohonan

Maka dari itu H. Jatim dalam perjanjian  menjaminkan apabila dalam perjanjian ....  H. jatim tidak membayar 1,2 M  maka menjaminkan sebelas tanah kaplingan 

Tanah dari sebelas ini tidak disebutkan itu milik siapa sehingga kami berasumsi bahwa tanah yang tengah dijual itu termasuk kepada yang dijaminkan jadi kami mohon adalah tanah yang sudah dijual jadi kami anggap itu tanah yang sengketa.

Kemudian ada agenda selanjutnya pada hari Kamis tanggal 28 Oktober itu adalah pembuktian surat-surat dan para saksi- saksi dari pihak tergugat dan penggugat," jelasnya. (hari)