MWC NU Kwanyar Peringati Hari Santri Nasional 2021

KH. Ahmad Nawawi S.Pd.I saat pidato kebangsaan di acara peringatan Hari Santri Nasional. (foto : arka/azla)

BANGKALAN - Menyongsong peringatan Hari Santri 2021, Pengurus Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) tingkat Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan menggelar peringatan Hari Santri Nasional, Jum'at (21/10/2021).

Acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 bertempat di halaman kantor MWC NU Kwanyar ini diawali dengan pengibaran bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya serta shalawat kebangsaan, yakni Syubbanul Wathan (Cinta Tanah Air) – Ya Lal Wathon ini diikuti seluruh pengurus MWC NU Kwanyar, TNI dan Polri Kwanyar, puluhan pelajar serta undangan lainnya.

Dalam upacara tersebut dibacakan ikrar santri yang berisi seorang santri harus siap menjadi pelindung keutuhan UUD 1945, Pancasila dan NKRI serta berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurut KH. Ahmad Nawawi S.Pd.I kegiatan ini adalah salah satu wujud syukur bahwa hari santri atas pengesahan Undang Undang Pesantren beberapa waktu lalu dan untuk keselamatan bangsa pada tanggal 15 Oktober 2015 Presiden RI Joko widodo resmi menanda tangani keputusan Presiden nomor 22 oktober Tahun 2015 tentang penetapan 22 oktober sebagai hari santri nasional.

"Akan tetapi anugerah dan kenikmatan yang telah kita dapatkan ini jangan hanya kita jadikan kebanggaan semata, jangan hanya kita jadikan sebagai momentum untuk sekedar kita euforia saja, tapi bagaimana setiap tanggal 22 Oktober setiap tahun kita jadikan sebagai momentum untuk kita bisa melanjutkan perjuangan para santri terdahulu," ujar Ketua MWC NU Kwanyar dalam pidato kebangsaan , Jum'at (22/10/2021).

Melalui momentum peringatan Hari Santri Nasional, Kiai Ahmad Nawawi mengajak bagi semua yang hadir untuk memperkokoh keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, serta kepada generasi muda dapat menjaga dan menanamkan akhlak mulia dikehidupan sehari hari.

"Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asya'ri yang pada saat itu sebagai Rais Akbar PBNU dengan torehan tinta emasnya, dengan tulisan tintanya dalam sebuah kertas yang mungkin tidak berharga tapi karena Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asya'ri menulis dengan penuh ikhlas serta memohon kepada Allah swt, kertas yang hanya dengan tulisan tangan dan tulisan pego itu mampu menggetarkan Indonesia, mampu mengobarkan semangat para santri, mampu mengobarkan semangat juang rakyat indonesia terlebih para santri dan pondok pesantren pada saat itu," ungkap Kiai Ahmad Nawawi. (onk)